Rhoni Rodin, M,Hum.

Perpustakaan dan Era Disrupsi Teknologi

Oleh: Rhoni Rodin*

 

Kerangka berpikir dan cara pandang terhadap perpustakaan pada saat ini bukan lagi memaknai sebuah perpustakaan sebagai tempat untuk menyimpan buku dengan tata urutan tertentu, namun sudah berubah menjadi pusat sumber informasi. Koleksi perpustakaan sebagai sumber informasi adalah perpustakaan multimedia, yaitu bukan saja hanya karya cetak, melainkan sudah dari berbagai format media. Hal ini sesuai dengan UU No. 2 tahun 1999 tentang Pendidikan Nasional bahwa salah satu sarana untuk mencerdaskan bangsa adalah dibentuk suatu perpustakaan di tiap tingkat sekolah (dari TK sampai perguruan tinggi).

Hadirnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membawa dampak perubahan paradigma kepustakawanan. Ada pergeseran tugas pustakawan dari hanya sekedar mengelola buku menjadi pengelola informasi. Revolusi terjadi saat munculnya TIK, termasuk munculnya jaringan internet. Terbukti bahwa internet tidak saja memudahkan akses pada dokumen tertulis, bahkan dapat dikatakan memporak-porandakan ketentuan yang berlaku dalam masyarakat. Perpustakaan menjadi lembaga ”terparah” mengalami perubahan yang semula tak pernah terpikirkan. Demikian juga dalam konsep penerbitan. Siapa saja dapat mengakses apa saja dan menerbitkan apa saja di internet. Oleh sebab itu, untuk menggunakan semua sumber informasi khususnya dalam internet diperlukan kemampuan tidak hanya sekedar kemampuan beraksara namun juga kemampuan berinformasi sehingga muncullah istilah literasi informasi (information literacy).

Perpustakaan menjadi pusat pengembangan kemampuan literasi informasi ini. Pada tahap inilah pustakawan diharapkan dapat mengelola pengetahuan yang tersedia dalam berbagai sumber daya informasi. Terjadi lagi penambahan tugas pustakawan dengan pengelolaan pengetahuan atau lebih dikenal dengan knowledge management (KM). Selanjutnya perkembangan sistem simpan digital yang begitu mengagumkan telah menjadikan apa yang dapat disimpan di internet tidak saja apa yang terbaca, namun juga yang terlihat dan terdengar. Dengan kata lain internet menyediakan informasi dalam segala formatnya. Interaksi antara pengguna internet berkembang tidak sekedar pos elektronik, namun sudah menjadi cara memublikasikan diri, pikiran, dan karya menggunakan multimedia. Dalam internet tersedia kemudahan untuk melakukan itu semua seperti perangkat blog, podcast, flicker, youtube, wiki/face book, dan sebagainya.

Penerapan teknologi informasi telah menyebar hampir di semua bidang, tidak terkecuali di bidang perpustakaan. Dengan demikian, ukuran perkembangan perpustakaan banyak diukur dari penerapan teknologi informasi yang digunakan dan bukan dari skala ukuran lain seperti besarnya gedung perpustakaan yang dimiliki, jumlah koleksi yang tersedia maupun jumlah penggunanya. Kebutuhan akan teknologi informasi sangat berhubungan dengan peran perpustakaan sebagai kekuatan dalam penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Maka muncullah perancangan aplikasi perpustakaan berbasis web yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan, baik perpustakaan di institusi pendidikan maupun perpustakaan umum milik pemerintah atau swasta, dan dapat digunakan pada komputer stand-alone, di internet atau intranet.

Dengan aplikasi ini, akan mempermudah layanan dan akses informasi serta pengelolaan data perpustakaan, seperti mempermudah pencarian buku/katalog, sistem keanggotaan, informasi jurnal, materi kuliah, peminjaman dan pengembalian buku serta pelaporan secara berkala. Sehingga, akan diperoleh efisiensi pekerjaan staf perpustakaan dalam pengelolaan buku perpustakaan, penyajian informasi yang lebih mudah dan interaktif, memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna layanan perpustakaan. Sejalan dengan perkembangan teknologi maka dikembangkanlah sistem informasi perpustakaan berbasis web (World Wide Web), yang kemudian muncul versi baru perancangan aplikasi perpustakaan berbasis web 4.0 dikenal dengan sebutan Library 4.0. bahkan di beberapa negara sudah menuju era 5.0.

Dalam proses pengembangan perpustakaan, ada saat masa transisi. Pada masa ini pengembangan dari tipe “perpustakaan tradisional” yang berbasis koleksi cetak (hardcopy) ke tipe “perpustakaan baru” berbasis informasi elektronik. Perpustakaan masa transisi dikenal dengan Perpustakaan Hibrida (The Hybrid Library). Perpustakaan hibrida merupakan perpaduan antara “perpustakaan baru” berbasis informasi elektronik dengan  “perpustakaan tradisional” yang berbasis informasi cetak. Keduanya saling berdampingan dan bersama-sama secara terintegrasi dalam memberikan layanan informasi. Akses yang disediakan dapat melalui pintu gerbang elektronik yang tersambung dengan internet (LAN) maupun sebagaimana layaknya perpustakaan tradisional. Berikut perbedaan perpustakaan hibrida dengan tipe perpustakaan yang tersedia pada situs web (website). Pertama, di satu sisi informasi dalam bentuk cetak tetap dipertahankan dan di sisi lain sumber informasi dalam bentuk elektronik mulai disediakan. Kedua, berusaha memusatkan perhatian dan memberikan layanan pada pemakai secara utuh baik “subjek spesifik maupun umum” untuk kelompok pemakai tertentu.

Istilah perpustakaan hibrida (Hybrid Library) dipopulerkan oleh UK Electronic Libraries Program (eL.Lib). Sementara orang menyatakan bahwa perpustakaan hibrida merupakan masa transisi antara perpustakaan tradisional dengan digital (Sutton, 1996; Oppenheim and Smithson, 1999; Rusbridge, 1998), sementara yang lain menyebutnya sebagai model yang masuk akal, merupakan modal awal yang luar biasa dari sumber informasi cetak menuju perubahan budaya yang dituntut untuk menuju ke penyebaran informasi digital yang sesungguhnya.

Di Indonesia, perpustakaan hibrida lebih dikenal dengan perpustakaan alternatif sehingga muncul istilah kepustakawanan alternatif yang diperkenalkan oleh Meiling Simanjuntak (1996), dikatakan bahwa peran pustakawan dalam masyarakat adalah memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber informasi demi keuntungan masyarakat sendiri. Dengan kata lain, fungsi pustakawan adalah menjadi mediator antara masyarakat dan sumber-sumber informasi, bukan hanya buku, tetapi termasuk sumber-sumber informasi dalam media lain. Tujuan perpustakaan alternatif adalah untuk menghubungkan masyarakat dengan pengetahuan terekam (sumber informasi) dengan cara yang sebaik mungkin (Gapen). Sebagai mediator antara masyarakat dan sumber informasi, peran pustakawan dalam menjalankan tugasnya saling terkait dan saling mempengaruhi dengan media informasi yang tersedia. Telah dibicarakan di depan, kehadiran media elektronik sebagai alternatif bagi media cetak mempengaruhi cara-cara pustakawan menjalankan perannya agar tetap maksimal, tetapi perlu diingat bahwa media cetak belum dan tidak akan tergantikan oleh media elektronik. Keduanya masih terus akan berdampingan, saling melengkapi meskipun tidak dapat disangkal bahwa pertumbuhan media elektronik sangat cepat dan akan menguruskan dominasi kertas sebagai media informasi. Oleh sebab itu, kepustakawanan yang berlandaskan kertas masih tetap dibutuhkan, tetapi pada saat yang sama, kepustakawanan virtual dan digital semakin diperlukan.

Pustakawan perlu menyadari betul bahwa perlu ditumbuhkan suatu jenis kepustakawanan dengan paradigma-paradigma baru yang mampu menjawab tantangan media elektronik tanpa meninggalkan kepustakawanan konvensional yang memang masih dibutuhkan. Kepustakawanan alternatif yang dapat menangkal marginalisasi pustakawan ini harus menjadi bagian dari perkembangan kepustakawanan konvensional dan tetap menyadari bahwa kemampuan maupun level digitalisasi dan virtualisasi berbeda-beda antar-perpustakaan. Sebagian perpustakaan di Indonesia masih harus beroperasi apa adanya, sebagian lagi berpotensi untuk bergabung dengan perpustakaan jaringan dan memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi. Hanya sebagian kecil yang sudah mampu memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi interaktif sehingga dapat merambah/menembus ribuan pusat informasi dalam memenuhi kebutuhan pemakainya, sedangkan sebagian kecil lainnya dapat memainkan peran penting untuk meningkatkan unjuk kerja perpustakaan Indonesia secara umum dengan menyediakan diri sebagai penyambung antara perpustakaan yang belum dan yang sudah virtual.

Kepustakawanan alternatif perlu menciptakan dasar-dasar perpustakaan virtual yang memungkinkan pustakawan konvensional mengakses informasi elektronik dengan mudah, tanpa menjadi pakar teknologi, mengupayakan digitalisasi informasi ilmiah yang banyak dibutuhkan (lowly), dan mengupayakan hubungan terpasang (online), pulsa murah antara perpustakaan kecil dengan perpustakaan besar. Dengan upaya-upaya ini, kesenjangan informasi diharapkan tidak akan terlalu lebar dan masyarakat tidak jatuh pada kesenjangan baru, yaitu kaya informasi dan miskin informasi.

*)Penulis adalah Dosen Tetap/ Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, IAIN Curup.

 

Categories:

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *